Cekidot gan Film Kolosal recomended ane :
by
capedwehgue | 701.05 MB | Uploaded : 22 Mar '09
Link Download :
Click langsung sedot
Click buat Indonesian Subtittlenya
Film 300: Pelecehan Peradaban Iran oleh Hollywood
Industri perfilman Hollywood telah berkali-kali memproduksi film yang
menyimpangkan fakta sejarah dan mendiskreditkan ras atau etnis
tertentu. Awal tahun 2007 ini, film serupa kembali dirilis Hollywood dan
kali ini, yang menjadi korbannya adalah bangsa dan peradaban Iran. Film
tersebut berjudul “
300” dan sengaja dibuat untuk mendiskreditkan bangsa dan kultur Iran. Film ini diproduksi oleh perusahaan film
Warner Bros,
yang mengangkat cerita mengenai tragedi yang pernah terjadi 480 tahun
sebelum masehi. Dalam skenario film ini diceritakan 300 tentara
Sparta berperang menghadapi pasukan kolosal
Khashayar Shah dari
Dinasti Achaemenian.
Tragedi bersejarah yang dipoles oleh Hollywood ini digambarkan dalam
bentuk perlawanan sekelompok tentara Barat yang berjumlah sedikit
terhadap pasukan kolosal Timur dan Iran yang sangat keji. Dengan
menggunakan spesial efek yang luar biasa, bangsa Iran dalam film ini
dikesankan sebagai bangsa yang keji, haus darah, dan zalim.
Film 300 yang dibuat hanya dalam waktu dua bulan ini, oleh sebagian
pakar sinema dinilai sebagai film fiktif semata. Namun menurut para
pengamat politik, film 300 termasuk agenda yang sudah diperhitungkan
sejak jauh hari untuk mencoreng wajah Iran yang memiliki peradaban yang
sangat tua. Sejarah peradaban Iran lebih dahulu muncul beberapa abad
sebelum peradaban Eropa. Iran merupakan bangsa yang pertama kali
mendirikan imperium di dunia. Pada saat itu, bangsa Iran berkuasa di
berbagai kawasan yang meliputi Mesir hingga India, dan melintasi Teluk
Persia hingga Yunani.
Selama 500 tahun, dinasti Achaemenian mempersembahkan berbagai karya
besar untuk umat manusia. Instansi pos, bendungan air, kanal-kanal
perairan dan jalur transportasi yang panjang adalah di antara inovasi
dinasti ini. Pionir peradaban Achaemenian adalah seorang pendekar
bernama
Cyrus. Dalam sejarah, Cyrus juga tercatat sebagai pembebas kaum Yahudi dari kezaliman bangsa
Babilonia. Pada 2500 tahun yang lalu, salah satu raja dinasti Achaemenian bernama
Darius juga menguasai Terusan Suez.
Dinasti Achaemenian pada akhirnya terpecah-belah setelah datangnya serangan dari
Alexander
Macedonia. Alexander berambisi untuk menguasai dunia, termasuk Iran,
sehingga dia melakukan serangkaian ekspedisi perang ke berbagai wilayah.
Alexander Macedonia menyerang Iran dengan membakar
Istana Persepolis, yang merupakan simbol peradaban dunia zaman itu. Puing-puing istana itu hingga kini masih ada di
Shiraz,
selatan Iran. Kini, 25 abad telah berlalu sejak serangan Alexander dan
Barat sebagai penerus ambisi Alexander kembali menggelar perang terhadap
Iran melalui berbagai cara, termasuk melalui perangkat canggih
Hollywood.
Dalam film 300 ini, Barat tak mempedulikan hasil riset-riset yang
aksiomatis dalam sejarah. Film ini juga melupakan gaya hidup dan bentuk
pakaian bangsa Iran. Dalam film ini, Khashayar Shah digambarkan mirip
dengan orang-orang Afrika dan India. Perlu diketahui juga, kekerasan
merupakan bagian dari perang. Untuk itu, sebuah peradaban tak bisa
dilecehkan karena melakukan kekerasan dalam peperangan. Jika kita
menengok sejarah
Yunani kuno dan
imperium Romawi,
terdapat ribuan tragedi terkait pembunuhan massal, pembakaran
hidup-hidup, dan kejahatan-kejahatan perang lainnya. Sejak 20 abad lalu
hingga kini, nama raja-raja Romawi kuno seperti
Nero dan
Caligula
tercatat dalam sejarah sebagai penguasa yang paling sadis dan peminum
darah. Dinasti Sparta yang dibanggakan dalam film 300 ini malah justru
tercatat sebagai pelaksana sistem arogansi, hegemoni, serta pelaku
perang.
Tentu saja, pernyataan tadi bukan berarti membenarkan peperangan,
melainkan untuk sekedar memberitahukan hakikat asli Dinasti Sparta yang
diagungkan dalam film ini. Sementara itu, bangsa Iran beberapa abad
setelah peperangan ini, akhirnya menjalani kehidupan baru dengan
menerima ajaran Islam. Setelah menerima Islam, peradaban Iran semakin
maju dengan munculnya perkembangan pesat di pelbagai bidang ilmu,
sosial, dan politik.
Dalam menanggapi berbagai kritik terhadap film ini, pihak-pihak yang
terlibat dalam pembuatan film ini menyatakan, “Film ini menggambarkan
perang antara bangsa Iran dan Sparta dipoles dengan data yang infaktual
dan fiktif.” Namun, karena film ini telah mempermainkan identitas
sejarah sebuah bangsa, film ini jelas telah melanggar etika dan
menyinggung perasaan bangsa Iran. Tak heran bila kemudian muncul
gelombang protes terhadap film ini dari bangsa Iran, baik yang tinggal
di Iran maupun di luar negeri. Orang-orang Iran, dari berbagai agama,
mazhab, dan haluan politik bersama-sama membela bangsa mereka yang telah
dilecehkan oleh film ini.
Hollywood sebagai perusahaan film terbesar AS yang sekaligus
representasi dari ambisi politik Washington di dunia perfilman, berusaha
keras mencoreng peradaban besar Iran dan membangun opini umum dunia
guna menyudutkan bangsa Iran. Hingga kini, meski telah dikritik banyak
pihak, Washington masih tetap bersikeras pada kebijakan anti-Iran-nya
itu. Sebagian pengamat politik menilai, niat AS untuk menyerang Iran
seperti yang dilakukan Alexander di masa lalu, harus didahului dengan
membangun opini terlebih dahulu. Untuk itulah, Hollywood sebagai alat
politik Washington, memainkan perannya dalam mencoreng wajah bangsa Iran
yang cinta perdamaian.
Terlepas dari segala kritikan teknis dan sejarah terhadap film ini,
yang jelas, keagungan peradaban Iran sama sekali tak akan tergoyahkan
oleh pembuatan film semacam ini. Sejarah manusia sangat berhutang budi
kepada berbagai peradaban unggul, seperti peradaban Iran Islami, Yunani,
Cina, dan Mesir. Di samping itu, kelanggengan peradaban manusia saling
terkait erat dengan peradaban lainnya. Tak diragukan lagi, kritikan
terhadap film ini tak hanya untuk membela bangsa Iran, tapi juga bisa
dikatakan sebagai bentuk reaksi logis terhadap penyimpangan sejarah yang
berkali-kali dilakukan oleh Hollywood demi menjaga interes Gedung
Putih, karena Iran bukanlah satu-satunya korban dari pelecehan
Hollywood.
Film 300 ini mulai dipromosikan di situs-situs sinema sejak akhir
tahun 2006 dan dirilis pertama kali pada tanggal 9 Maret 2007. Dalam
promosi film tersebut dikomentari bahwa penonton film ini akan melihat
wajah lain bangsa Iran. Bangsa Iran cukup sensitif ketika melihat
cuplikan-cuplikan film 300 yang ditayangkan untuk mempromosikan film
tersebut, dan kini setelah film itu ditayangkan secara umum, mereka pun
telah menangkap jelas tendensi di balik pembuatan film tersebut. Film
300 yang diproduksi oleh Warner Bross merupakan serangan yang tidak
jantan dan pendeskriditan terhadap peradaban dan sejarah Iran.
Film ini diangkat dari novel karya
Frank Miller yang menceritakan pertempuran Khashayar Shah, seorang raja Iran, dengan
Raja Leonidas, seorang raja Spartan dari Yunani. Film ini mengambil latar belakang pertempuran
Thermopylae,
di mana Raja Leonidas mengerahkan 300 pasukan untuk menghadapi pasukan
kolosal Raja Khashayar Shah. Namun pada akhirnya, pintu-pintu gerbang
kota dapat dijebol oleh pasukan Iran dan kemudian pasukan Yunani
mengalami kekalahan. Film ini mengangkat catatan dari Herodotus yang
menyatakan, perlawanan selama tiga hari pasukan Spartan melawan pasukan
Iran telah menimbulkan persatuan bangsa Yunani dan pembentukan
pemerintahan demokratis.
Namun, pernyataan ini dibantah oleh
Touraj Daryaee,
seorang profesor Sejarah Kuno dari Universitas California. Dalam film
ini orang-orang Sparta digambarkan sebagai pecinta demokrasi dan anti
perbudakan. Padahal, sejarah menyebutkan, Dinasti Achaemenian di Iran
mempekerjakan dan membayar para pekerja, tanpa memperdulikan etnik
maupun jenis kelamin. Sebaliknya, pada zaman yang sama, hanya 14 persen
orang-orang Yunani yang berpartisipasi dalan pemerintahan yang
demokratis. Bahkan, pada saat itu, hampir 37% populasi Yunani adalah
budak. Menurut Touraj Daryaee, Sparta adalah kerajaan militer, bukan
pemerintahan demokratis dan bahkan memiliki sistem perbudakan.
Sutradara film 300,
Zack Snyder,
mengoptimalkan spesial efek yang luar biasa dalam film ini. Dengan
melibatkan aktor-aktor nyata, bukan animasi, Snyder mampu memoles
tayangan pertempuran dalam film tersebut sehingga terkesan seperti
pertempuran yang nyata. Padahal, tayangan tersebut adalah hasil
kombinasi permainan efek dengan latar belakang gambar-gambar. Namun
demikian, para pengamat film tetap menilai negatif film tersebut dan
sebagian menyebutnya sebagai film ala video game. Dalam film tersebut,
pasukan Iran digambarkan seperti makhluk aneh dan juga dikesankan
seperti robot yang tak berakal, yang tugasnya hanya membunuh manusia.
Sebaliknya pasukan Yunani digambarkan sebagai pasukan yang cerdas.
Seorang kritikus film di koran New York Times menulis, Film 300
merupakan film yang bisa disetarakan dengan film Apocalypto yang
disutradarai oleh
Mel Gibson. Akan tetapi film 300 lebih konyol dua kali lipat dibanding film
Apocalypto.
Film ini cenderung menekankan penampilan luar. Dalam bagian film yang
tak ada pertempuran dan pertumpahan darah, tubuh dan pakaian perang
pasukan Yunani dan perhiasan-perhiasan pasukan Iran ditampilkan secara
konyol.
Semakin jauh menyaksikan flm 300, akan kian nampak tendensi di balik
pembuatan film ini. Koran Washinton Post menyebutkan, “Film 300
dikonsumsikan untuk penonton yang nalarnya rendah, bahkan dalam film itu
sama sekali tak dijelaskan urgensi pengorbanan untuk menyelamatkan
Thermopylae dan juga tak ada sedikitpun ulasan soal kekalahan telak
Yunani dalam menghadapi bangsa Iran. Bagian film lainnya juga
menampilkan parlemen Yunani yang menolak untuk memberikan dukungan dan
bantuan kepada Raja Leonidas melalui serangkaian perdebatan. Hal ini
mengingatkan Kongres AS yang menolak kebijkan Presiden AS,
George W Bush soal perang Irak.”
Seorang warga Iran setelah menonton film 300 menuliskan komentarnya
di weblog pribadinya. Dia mengatakan, “Tanpa mempedulikan pemeranan
karakter yang lemah dalam film ini, tema yang diangkat dalam film ini
berkisar soal kebebasan dan perbudakan. Film itu juga menceritakan bahwa
pasukan Iran menyerang Yunani untuk menjadikan bangsa Spartan sebagai
budak dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan dunia adalah dengan
kemenangan bangsa Yunani. Ini mirip klaim yang digembar-gemborkan oleh
AS dan sejumlah negara-negara arogan dunia. Di tengah-tengah upaya Iran
untuk mengembangkan teknologi nuklir sipil, film tak bernilai semacam
ini telah dirilis secara sengaja untuk mendiskreditkan bangsa Iran. Hal
ini juga berkali-kali telah dilakukan oleh Hollywood dalam
kondisi-kondisi sensitif, seperti film ‘Alexander’ yang sengaja dikemas
untuk mengucilkan Iran.”
Pemerintah Iran sendiri secara resmi melalui Lembaga Budaya Republik Islam Iran telah meminta
UNESCO
untuk menindak dan melarang penayangan film 300 yang bertendensi
mendeskriditkan peradaban dan sejarah bangsa Iran. Lembaga ini secara
tegas menyatakan, “Dengan memperhatikan piagam UNESCO yang mengecam
kebencian dan pertentangan, dan juga mengingat UNESCO sebagai pihak yang
bertugas melindungi peninggalan kebudayaan dunia, maka lembaga
internasional ini harus mengeluarkan reaksi terkait masalah ini.”
Warga Iran di seluruh dunia juga menggalang penandatanganan petisi
online
untuk memprotes penayangan film 300. Sebuah situs khusus juga dibuat
untuk menampung kritikan para penonton film ini yang memprotes film
tersebut. Hingga kini sudah banyak pihak yang membubuhkan tanda tangan
sebagai aksi protes. Surat protes terbuka ini sengaja dimuat di situs
ini dalam rangka mengecam arogansi Hollywood, dan langkah ini kian
mendapat sambutan dari hari ke hari. Salah satu penggagas situs ini
mengatakan, “Problema utama dalam film 300 adalah bahwa bangsa Iran
dalam film ini digambarkan secara tidak realistis, dan sebuah bangsa
besar dan beradab telah dikesankan negatif. Hal ini sama sekali tak bisa
diterima.”
Propaganda yang dikemas dengan data bohong dan tendensius ini
merupakan politik Barat dalam rangka menyudutkan bangsa Iran. Sangatlah
jelas bahwa pencorengan terhadap nama baik bangsa Iran di mata dunia dan
justifikasi atas politik perang Washington adalah tujuan di balik
pembuatan film 300. Namun bagi orang yang mengenal peradaban agung Iran,
pembuatan film semacam ini sama sekali tak mengurangi penghargaan
mereka terhadap peradaban tinggi bangsa Iran.
Lihat juga artikel di bawah ini :
!!
sumber : http://abatasya.net/